Search it guys!

Selasa, 12 Juli 2011

Pulau Asu, Nias - Indonesia

Berselancar di Ombak
Pantai Pulau Asu

Lautnya jernih, berlapis warna hijau bening dan biru memukau hingga ke tepi pantai pasir putih. Langit biru dan nyiur pepohonan kelapa yang terus melambai menyikapi datangnya angin laut, menjadi pemandangan tersendiri. Keindahan alam itu seakan-akan bersaing dengan pesona budaya megalitik dan juga rumah-rumah adat ramah lingkungan serta berbagai hasil karya masyarakat Nias, Sumatera Utara, yang telah berumur ratusan tahun.

Nias tidak saja mempunyai peninggalan budaya, tarian dan tradisi yang bersejarah. Keindahan alam yang masih asli serta pantai yang menawan ternyata belum banyak yang terkuak. Pulau Nias dan 130-an pulau yang mengelilinginya mempunyai potensi pantai dan ombak yang sangat indah. Selancar (surfing) atau sekadar bertelanjang dada menikmati sinar mentari di pantai, menjadi gambaran yang lekat dengan Nias dan pulau-pulau sekitarnya. Sekalipun, potensi-potensi tersebut belum diolah secara optimal, apalagi setelah Nias dilanda bencana tsunami dan gempa.

Beberapa objek wisata Nias sudah dikenal secara internasional, mulai dari tempat selancar yang boleh dibilang bersaing dengan Hawai, yaitu di Sorake dan Pantai Lagundri, serta kompleks rumah adat Nias di Desa Bawamataluo, Nias Selatan. Juga ritus lompat batu dan tarian perang. Demikian juga di Kecamatan Sirombu terdapat Desa Adat Onolimbu.

Selain Pantai Sorake dan Pantai Lagundri, Nias ternyata masih memiliki beberapa potensi ombak dan pantai untuk wisata selancar dengan ketinggian antara 4-8 meter. Sebut saja kawasan Pulau Bawa dan Pulau Asu di Kepulauan Hinako, Kecamatan Sirombu.

Keindahan Pulau Asu mungkin tidak jauh berbeda dengan pulau-pulau di kawasan tersebut. Namun situasi yang tenang dan keramahan warga setempat membuat sejumlah turis menjadi betah untuk menikmati pulau tersebut. Boleh percaya atau tidak, tetapi barang-barang turis yang tertinggal beberapa hari di luar penginapan pasti tetap aman.

"Potensi alam pulau-pulau kecil di sekitar Nias dan keramahan warga setempat sebenarnya menjadi faktor penting mendorong berkembangnya wisata di Nias. Inilah saatnya Nias bangkit," demikian Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nias, William P Sabandar.

Fasilitas dan transportasi menuju Pulau Asu memang masih terbatas. Di Pulau Asu, dengan sekitar 20 kepala keluarga (KK) penghuninya, ternyata hanya mempunyai empat kompleks cottage yang sederhana. Masing-masing kompleks cottage itu mempunyai 5-6 unit rumah panggung. Para turis yang hidup berhari-hari di situ umumnya menunggu saat-saat yang tepat untuk berselancar.

Sedangkan transportasi yang biasa dilalui adalah menggunakan speedboat dari daratan Nias, tepatnya di Kecamatan Sirombu, dengan menempuh waktu sekitar 1,5 jam. Jika menggunakan kapal motor biasa maka perjalanan akan menjadi 3-4 jam, itupun tergantung ketinggian ombak. Sedangkan perjalanan dari Gunung Sitoli, Kota Kabupaten Nias, menuju Sirombu pun saat ini menjadi lebih cepat setelah sejumlah ruas jalan diperbaiki dan dilebarkan.

Keterpencilan Nias dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Pulau Asu, terlihat jelas. Karena lautan yang memisahkan Nias dan pulau-pulau itu dari Pulau Sumatera adalah lautan dalam. Sementara transportasi samudera pun masih sangat minim. Berbagai pelabuhan laut, udara dan darat, perlahan-lahan diperbaiki. Inilah saatnya potensi wisata di Nias bangkit setelah kendala transportasi dan infrastruktur teratasi dengan hadirnya pembangunan dengan puluhan miliaran rupiah.

"Tantangan saat ini adalah bagaimana momentum pembangunan infrastruktur dan potensi alam yang begitu besar tersebut menjadi pendorong ekonomi masyarakat Nias yang sangat terpuruk," kata Agus Mendrofa, salah satu tokoh Nias yang tengah mempromosikan potensi wisata pulau tersebut.

Senin, 11 Juli 2011

Cukang Taneuh, Indonesian Green Canyon.

Jika merasa terlalu jauh berkunjung ke Grand Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata juga memiliki Green Canyon sendiri yang tak kalah cantiknya. Sebenarnya tempat ini punya nama asli yaitu Cukang Taneuh. Nama Green Canyon sendiri dipopulerkan oleh seorang warga Perancis pada tahun 1993. Sedangkan Cukang Taneuh punya arti yaitu jembatan tanah. Hal itu dikarenakan di atas lembah dan jurang Green Canyon terdapat jembatan dari tanah yang digunakan oleh para petani di sekitar sana untuk menuju kebun mereka.

Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Di dekat objek wisata ini terdapat objek wisata Batukaras serta Lapangan Terbang Nusawiru.

Objek wisata mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit, juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan. Semuanya itu membentuk seperti suatu lukisan alam yang begitu unik dan begitu menantang untuk dijelajahi.

Untuk mencapai lokasi ini wisatawan harus berangkat dari dermaga Ciseureuh. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu tempel atau kayuh yang banyak tersedia di sana. Jarak antara dermaga dengan lokasi Green Canyon sekitar 3km, yang bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Sepanjang perjalanan kita akan melewati sungai dengan air berwarna hijau tosca. Mungkin dari sinilah nama Green Canyon berasal.

Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Di sinilah awal petualangan menjelajah keindahan objek wisata ini dimulai. Dari sini wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke atas dengan berenang atau merayap di tepi batu. Disediakan ban dan pelampung bagi yang memilih untuk berenang. Meski harus menempuh cara seperti ini, perjalanan dijamin sepenuhnya aman. Bahkan untuk anak-anak 6 tahun ke atas cukup aman untuk menyusuri aliran sungai dengan menggunakan ban dan dipandu oleh pemilik perahu yang disewa.

Perjalanan akan terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai. Dinding-dinding untuk menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu di bagian atas beberapa kali pengunjung akan melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Setelah beberapa ratus meter berenang, akan terlihat beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan. Jika diteruskan berenang maka pengunjung akan sampai pada ujung jalan, di mana terdapat gua yang dihuni oleh banyak kelelawar.

Alur aliran sungai ini cukup panjang, sehingga pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya sambil mengikuti arus dari air terjun. Selain pemandangan indah di atas permukaan air, Green Canyon akan menjadi surga tersendiri bagi yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan beragamnya ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di dasar lubuk. Bagi yang suka menantang adrenalin, dapat meloncat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5m ke dasar lubuk yang dalam.

Bagi Anda yang benar-benar ingin menikmati keindahan objek wisata Green Canyon harus paham dengan musim-musimnya. Karena saat terbaik untuk bisa menikmati keindahaan objek wisata ini adalah beberapa saat setelah masuk musim kemarau. Karena jika pada musim hujan, dikhawatirkan deras sungai dan warna airnya pun akan menjadi coklat.

Sebelum Anda memutuskan untuk ke Green Canyon, sebaiknya terlebih dahulu menyiapkan uang tunai yang cukup. Pasalnya, disana tidakada bank atau ATM. Untuk ATM, tempat penginapan dan fasilitas akomodasi yang lengkap bisa Anda dapatkan di Pangandaran.

Untuk akses berperahu, disana tersedia armada perahu yang cukup banyak. Ada sekitar 100 unit perahu yang dapat mengantarkan Anda untuk menelusuri objek wisata ini. Pada setiap perahu akan dilengkapi seorang juru dan tugas batu untuk memandu Anda dalam perjalanan.

Rute perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Green Canyon yaitu :

Dari JAKARTA dan BANDUNG,

Anda bisa mengikuti Rute Arah ke Jawa Tengah dengan melalui Kota Tasik-Ciamis Kota-Kota Banjar- Pangandaran.

Dari JAWA TIMUR dan JAWA TENGAH,

Untuk JAWA TIMUR anda dapat menuju Arah JAWA TENGAH terlebih dahulu, lalu dilanjutkan untuk mengambil jalur ke Jawa Barat dengan mengikuti jalur Arah (Purworejo-Kebumen-Wangon-Banjar- Pangandaran-Ciamis).

Bagi Anda yang menggunakan kendaraan umum, tentunya tidak usah repot memikirkan rute. Karena sopir akan membawa Anda Langsung ke Pangandaran(Green Canyon). Tapi yang perlu diperhatikan yaitu tempat Anda Menginap disana, anda bisa memilih penginapan yang terdapat di hotel-hotel yang tersedia banyak di Pangandaran atau bisa juga menginap di objek wisata Batukaras yang sangat berdekatan dengan Green Canyon. (untuk data informasi hotel anda bisa lihat pada list hotel yang tesedia di situs ini).
Selamat Menikmati Liburan Panjang dengan Keluarga Anda, Kunjungi dan Nikmati Potensi Objek Wisata Kabupaten Ciamis yang lain, yang tidak kalah menariknya dengan Green Canyon.

TIKET MASUK OBJEK WISATA CUKANG TANEUH (GREEN CANYON)
a. Tiket Perahu/Parkir Rp. 57.500,-
b. Tiket Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 12.500,-

Cimaja, dan Pesonanya

Banyak para Surfer mancanegara yang datang ke Pantai ini. Di empat ini juga seing diadakannya event surfing ingkat nasional dan pro. Hal ini bukan hanya membangkitkan gairah wisatawan untuk menikmati indahnya berselancar di Pantai Cimaja ini. Para Pengelola wisata di tempat ini pun mendapatkan rejeki nomplok dengan adanya para wisatawan yang datang ataupun para peserta yang menginap di sekitar berlangsungnya lomba. Hal ini terbukti dengan penuhnya beberapa hotel di sekitar Pantai Cimaja.Panorama pantai yang indah dan ombak yang besar membuat pantai ini menjadi tempat favorit bagi para peselancar. 


Pantai Cimaja yang berlokasi di Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kab.Sukabumi, merupakan pantai yang menjadi tujuan utama. Pantai paling terkenal di antara ketiga pantai, yang berada di gugusan pantai laut selatan Kab. Sukabumi dengan panjang hingga 117 kilometer. Popularitas Pantai Cimaja sebagai kawasan surfing di dunia internasional, tak terlepas dari lahirnya atlet peselancar tingkat dunia asal Indonesia yang tergolong masih belia Sandi Selamat (16). Pantai yang berjarak sekitar tiga belas kilometer arah utara Kota Pelabuhan Ratu. 

Kontur pantai yang berbeda dengan pantai pada umumnya, menjadikan Pantai Cimaja sebagai objek sangat menarik untuk dikunjungi.”Sepanjang pantai berhiaskan bebatuan kali yang bentuknya hampir sama bulat.

Jarak tempuh dari Jakarta ke Cimaja sekitar 120 kilometer dan dari Bandung mencapai 203 kilometer, seakan bukan menjadi penghalang.Hampir setiap akhir pekan, antara Jumat hingga Minggu kawasan pantai selalu penuhi peselancar.

Tidak hanya masyarakat sekitar atau atlet asal Jakarta dan Bandung,tetapi juga ekspatriat yang bekerja di sejumlah kota besar di tanah air menjajal gelombang Cimaja. Hal ini pula yang menjadikan Cimaja mengantongi predikat Bali-nya Sukabumi.

Pantai Cimaja semakin mendunia, saat peselancar Sandi Selamat tampil di ajang kejuaraan surfing Asia Pasifik di Eropa,  di Prancis, Para peselancar tingkat dunia seakan dibuat penasaran, akan kemahiran pemuda asal Cimaja tersebut. Oleh karena itu, ketika kejuaraan berkelas internasional Indonesian Surfing Championship, Coca-Cola Indonesian Surfing Championship Tour, dan The Billabong Pro Java digelar, peserta pun membeludak.

Sarana akomodasi dan transportasi di Cimaja, relatif mudah. Untuk pondokan dan hotel, wisatawan dapat memilih mulai dari yang kelas non-bintang (melati) hingga berfasilitas bintang dengan harga sangat terjangkau. Demikian pula halnya dengan sarana berselancar. Ada banyak tempat penyewaan, penjual hingga jasa perbaikan papan selancar. Harganya pun sangat  bervariasi, tergantungmerek.

Namun, sangat disayangkan, sebagai salah satu tujuan wisata dan juga kawasan berolah raga yang mulai mendunia, kawasan Pantai Cimaja tidak didukung dengan fasilitas maupun penataan layaknya satu objek wisata atau kawasan berolah raga air.

Untuk menuju bibir pantai, bagi pengunjung yang memaksakan diri membawa kendaraan, terlebih dahulu harus melewati tanah kosong yang jaraknya cukup jauh dan kebun warga. Sementara bila berniat jalankaki, bisa memotong jalan melalui Didesa Resort, tentunya dengan terlebih dahulu meminta izin kepada pihak hotel.


Sumber : Berbagai sumber

Jumat, 08 Juli 2011

Sawarna, Bayah, dan definisi lengkapnya

Sawarna merupakan salah satu desa di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Panorama keindahan alam desa ini cukup menawan. Objek wisata di desa ini sering dikunjungi oleh para wisatawan dari mancanegara.
Keindahan Pantai Tanjung Layar, Pasir Putih dan pantai lainnya yang menjadikan Desa Sawarna mendapat sebutan sebagai Desa Wisata. Untuk berkunjumg ke desa ini bisa ditempuh dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak ke arah Malimping, Bayah sampai Pantai Pulomanuk yang jaraknya kurang lebih 126 Km.
Jalan raya menuju tempat wisata ini sudah memadai, beraspal hotmix mulus. Keindahan semakin terasa seiring dengan sajian pemandangan alam pantai di sepanjang jalan mulai dari Malimping hingga Sawarna.

Sawarna
Potensi wisata alam yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata dan daya tarik wisata di Desa Sawarna terbagi dalam dua bagian, pertama yaitu obyek wisata pantai yang terdiri dari Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar, Pantai Karang Bokor, dan Pantai Karang Seupang. Objek wisata alam lainnya adalah gua yang juga banyak terdapat di sana.
Kepala Desa Sawarna, Asep Moch.Erwin, mengaku dirinya sudah sering mempromosikan dan mengajukan potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di desa. Promosi ini dilakukan secara formal pemerintahan seperti diaolog dengan pihak Dinas Pariwisata yang juga sudah memantau desanya. Promosi yang tidak formal seperti lewat media massa.
“Itu semua dilakukan, agar potensi SDA di Desa Sawarna ini secepatnya diperhatikan dengan baik oleh pemerintah sehingga pada akhirnya bisa mendongkrak PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan membantu memperdayakan masyarakat setempat.

Potensi Pariwisata
Potensi wisata alam yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata dan daya tarik wisata di Desa Sawarna adalah objek wisata pantai di antaranya:
* Pantai Pasir Putih Ciantir
* Pantai Tanjung Layar
* Panatai Karang Bokor
* Pantai Karang Taraje
* Pantai Teluk Legon Pari
* Pantai Karang Seupang.
Objek wisata Pantai Pasir Putih Ciantir dan Tanjung Layar merupakan primadona wisata Desa Sawarna dengan pasir putih yang menghampar sepanjang 3 Km. Aneka ikan hias dan terumbu karang serta ombak yang besar sangat cocok untuk olahraga selancar air atau surfing. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke tempat ini.
Selain obyek wisata Pantai, terdapat juga objek wisata yaitu objek wisata alam seperti goa yang meliputi:
* Gua Lalay
* Gua Sikadir
* Gua Cimaul
* Gua Singalong
* Bukit Pasir Tangkil
Di antara gua yang terdapat di Sawarna, Gua Lalay yang paling terkenal dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Beberapa gua ini memiliki historis yang menarik, selain gua, ada lagi objek wisata seperti Tapak Sikabayan dan makam orang Belanda yang bernama Jean Louis Van Gought yang konon katanya orang pertama yang membuka lahan di Sawarna dengan membuka lahan perkebunan kelapa yang sudah menjadi program pemerintahan Hindia – Belanda pada tahun 1907.

Kerajinan Tangan
Kerajinan di Kabupaten Lebak memiliki peran yang besar, khusunya di daerah Banten selatan seperti di Desa Sawarna. Peran industri kerajinan sangat dirasakan dalam tata kehidupan masyarakat lantaran sebarannya yang hampir merata di seluruh wilayah. Lebih dari itu, sekitar 60 persen dari total ekspor kerajinan di Jogjkarta diproduksi oleh pengrajin Banten Selatan.
Keunikan pengrajin di Desa Sawarna Kabupaten Lebak ini adalah keahlian yang diperoleh secara turun temurun. Setiap dusun biasanya memiliki keahlian memproduksi karya kerajinan yang sejenis. Dengan banyaknya warga yang bergelut di kerajinan yang sejenis, dalam perkembangannya desa tersebut menjadi pusat atau sentra suatu produk kerajinan. Para buyer dan pecinta karya seni tradisional selain bisa memilih berbagai alternatif produk dari perajin yang berbeda sekaligus berwisata menikmati alam atau keunikan desa setempat dan juga bisa melihat proses pembuatan sebuah karya kerajinan.
Hasil kerajinan tangan masyarakat Desa Sawarna bahan mentahnya adalah kayu, apalagi bahan mentah ini didukung oleh banyaknya hutan belantara yang masih natural dan banyak menghasilkan kayu berkualitas. Sehingga menunjang terciptanya suatu nilai seni yang baik. Gitar, adalah salah satu kerajinan masyarakat yang banyak diminati oleh para touris mancanegara dan memilki aset jual paling banyak, sampai sekarang pun gitar produk asli Sawarna ini masih ada dan bisa di pesan dengan harga yang relatif murah.

Pertanian, Peternakan, Dan Perikanan
Luas lahan di Desa sawarna yang digunakan untuk kegiatan produksi pertanian (sawah, tegal, dan kebun campur) meliputi hampir 400 juta meter persegi atau mencakup sekitar 79 persen dari seluruh wilayah Kabupaten ini. Potensi persawahan berjumlah sekitar 16.500 Ha, terdiri dari irigasi teknis sekuas 1.200 Ha lebih, irigasi setengah teknis sekitar 12.500 Ha, irigasi sederhana lebih dari 580 Ha, irigasi desa/non PU seluas 2.100 Ha lebih.
Komoditas pertanian yang dominan di Sawarna adalah tanaman pangan dan holtikultura, dengan produksi petahun padi mencapai sekitar 157 ribu ton, jagung sebanyak 23 ribu ton, ubi kayu sejumlah 30 ribu ton, kedelai sebanyak 8 ribu ton, bawang merah sejumlah 167 ribu ton, cabai sekitar 72 ribu ton. Sedangkan hasil buah-buahan meliputi: mangga sebanyak 41 ribu kuintal setahun dan pisang juga sekitar 21 ribu kuintal.

Bayah, Banten

Bayah adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Kecamatan ini memiliki potensi wisata pantai yang luar biasa sebenarnya. Tetapi, belum terkelola dengan baik. Walaupun seperti itu, berita baiknya, pantai-pantai di Bayah menjadi pantai yang masih terjaga kealamiannya.

Banyak akses menuju Bayah. Bisa lewat pandeglang atau lewat sukabumi juga bisa. Sayangnya akses melalui Pandeglang-Malingping kondisi jalan kurang bersahabat. Kalau lewat Pelabuhan Ratu Sukabumi, kondisi jalan sudah mulus dan pemandangannya luar biasa, karena kita menyusur bukit di pinggir pantai.

Pantai-pantai di Bayah, masih terjaga ke alamiannya dan variatif kondisinya. Ada yang terhampar pasir putih yang cukup landai, tetapi ada juga yang terdiri dari batu karang keras yang menjorok ke laut. Lokasi pantai favorit di Bayah adalah Pantai Sewarna dan Manuk! Di sana ada hamparan pasir putih yang cukup panjang, dengan sensasi khas ombak pantai selatan! Kalau kita berkunjung ke sana, bukan pada hari libur. Wah, sensasinya luar biasa. karena pantai menjadi indah, alami, hening dan sepi,...serasa milik kita sendiri deh.

Sayang, belum banyak penginapan yang layak di sana. Jadi, anda harus siap menikmati penginapan yang alami. Jadi, untuk menghilang sebentar dan recharge,...tak ada salahnya anda mencoba berpetualang ke Bayah.


Kamis, 07 Juli 2011

Liburan di Sawarna


Dahulu lokasi ini adalah merupakan perkebunan kelapa yang di kelola oleh Perhutani setempat. Namun kemudian, pemda mengambil alih lokasi wisata tersebut untuk di kelola, walaupun belum maksimal hingga saat ini. Potensi wisata di tempat ini sungguh menjanjikan, walaupun sarana baik transportasi dan akomodasi belum dapat di sebut mudah & layak sebagai sarana penunjang bagi obyek wisata.


Selain menawarkan keindahan pantai, daerah yang di kenal dengan sebutan daerah seribu gua ini merupakan surga bagi para pecinta olahraga caving. Banyak cavers lokal yang dengan rutin mengunjungi daerah ini untuk menjelajah gua-gua yang jumlahnya ribuan dan terbentuk karena batuan kapur di pegunungan yang membentang dari Pelabuhan Ratu hingga arah Bayah-Malingping. Banyak dari cavers ini yang menjajal keahlian mereka menjelajahi gua, dengan ciri khas masing-masing gua dan tingkat kesulitan di-jelajah dari basic sampai advance.



Nama Tanjung Layar nampak-nya belum terkenal dengan luas di kalangan pecinta dan penikmat alam terutama pantai. Letak-nya yang berdekatan dengan pantai Ciantir ini sungguh merupakan 'hidden paradise'. Disana terdapat bongkahan batu karang yang berdiri menjulang dengan tegak berbentuk layar, dikelilingi olehbarrier atau gugus karang yang melindungi area karang yang menjulang tersebut dari hempasan ombak.



Jarak antara pantai ke batuan karang tersebut kira-kira 25 meter, dan jarak antara bongkah karang tersebut kebarrier yang menjadi benteng pemecah ombak sekitar 35 meter. Yang menarik adalah, di sekeliling bongkah karang berbentuk layar tersebut kita dapat bermain menjejak kaki tanpa takut terbenam ke dalam pasir laut, karena ada semacam karang pipih yang menjadi alas kita berjalan-jalan. Dari atas, tempat tersebut jadi mirip kolam kecil dengan hiasan karang di tengah, atau seperti pinggan raksasa yang menghidangkan sup air laut dengan hiasan karang di tengah pinggan.



Di sekeliling kolam laut yang terbentuk tidak sengaja oleh alam, kita dapat menemukan beberapa komunitas hewan-hewan laut yang biasa menghuni karang, terutama di sela-sela batuan karang. Juga terdapat ganggang hijau yang tumbuh menghiasi sebagian area tersebut. Kita dapat menghabiskan senja di Tanjung Layardengan pemandangan memukau ke arah barat, dimana matahari perlahan tenggelam ke peraduan.



Oya, pantai Ciantir yang letak-nya berdekatan dengan Tanjung Layar ini juga merupakan surga bagi para peselancar, yang umumnya datang dari luar negeri. Mereka rata-rata datang ke sini di musim ombak besar untuk melakukan kegiatan ber-selancar. Kenapa sampai tempat ini terkenal di kalangan peselancar dunia, karena letak-nya yang strategis dengan ombak besar, berbentuk teluk yang pantai-nya menjorok ke dalam, sehingga relatif lebih aman di banding tempat lain yang sama-sama merupakan pantai Selatan.



Sayang sekali, kedua tempat yang merupakan 'hidden paradise' tersebut masih jauh dari layak sarana transportasi-nya, sehingga kesulitan bagi para turis domestik maupun luar negeri sangat terasa dalam usaha mengunjungi tempat tersebut. Pengunjung harus berjalan kaki sejauh 2 km atau naik ojek yang kadang harus ber-akrobat-ria menghindari lesakan pasir pantai, demi sampai ke daerah ini dari jalan utama. Disamping tempat penginapan yang juga kurang memadai, lengkap sudah obyek wisata ini menjadi tempat yang sangat terpencil. Kelebihan lain dari sangat terpencil-nya lokasi ini adalah, ke-asli-an alam masih terjaga baik dengan pantai yang bersih dan belum terjamah.



Jika beruntung, kita dapat melihat buaya yang kadang berjemur di muara sungai Ciantir,.. mempesona!!!





It's trully hidden paradise... in Sawarna...